Batu Bara ICE Newcastle di 140,80 Abaikan Timur Tengah, HBA akan Kembali Berubah Pekan Depan
- Batu Bara ICE Newcastle belum membuat kemajuan di 140,80.
- Ada kabar MoU antara AS-Iran, meskipun belum disetujui Presiden Trump.
- Kementerian ESDM RI akan merilis HBA baru pekan depan.
Batu bara ICE Newcastle front month diperdagangkan di 140,80 yang belum berubah sejak pembukaan. Batu bara ini juga belum berubah dari level ini sejak Kamis lalu. Harga komoditas ini tampak mengabaikan kabar terbaru dari konflik AS-Iran, melanjutkan perilaku harga hari-hari sebelumnya yaitu tidak berubah dari harga pembukaan.
Dalam jangka lebih panjang, tren harga batu bara adalah naik, seperti ditunjukkan oleh Simple Moving Average (SMA) 200-hari yang membimbing tren di bawah harga. Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 57,76 secara teknis menunjukkan bahwa momentumnya bullish karena berada di atas level netral 50. Namun demikian, momentum terlihat menurun mengingat aksi harga dalam beberapa hari terakhir.
Pada hari kemarin, Axios melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Iran mencapai nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) untuk memperpanjang gencatan senjata 60 hari serta memulai negosiasi program nuklir Iran. Namun, MoU ini masih menantikan persetujuan dari Presiden AS, Donald Trump.
Kabar di atas telah membuat minyak West Texas Intermediate (WTI) turun hingga saat ini diperdagangkan di $86,50 per barel pada saat berita ini ditulis. Pergerakan minyak terlihat lebih diamati oleh para pedagang untuk mengukur sentimen dalam menanggapi kabar terbaru dari Timur Tengah. WTI terpukul oleh kemungkinan pembukaan Selat Hormuz dalam MoU, yang berpotensi memulihkan distribusi minyak dan gas global.
Potensi perbaikan distribusi gas bisa mengurangi permintaan batu bara yang selama konflik AS-Iran digunakan sebagai alternatif gas untuk pembangkit listrik. Hal tersebut pada akhirnya memengaruhi harga batu bara, meskipun untuk saat ini tidak terlihat dalam pergerakan harga.
Terkait energi di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode kedua Mei 2026 dalam Kepmen ESDM No. 204.K/MB.01/MEM.B/2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;
- Batubara (6.322 GAR) $116,32 naik dari $106,57
- Batubara I (5.300 GAR) $80,34 naik dari $79,56
- Batubara II (4.100 GAR) $57,61 naik dari $55,66
- Batubara III (3.400 GAR) $39,35 naik dari $38,76
Pasar Indonesia kembali dibuka hari ini setelah libur selama dua hari hanya untuk mengalami akhir pekan panjang ke depan karena pasar kembali libur Senin besok untuk memperingati Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2026.
Dengan demikian, sejauh ini belum ada kabar terbaru terkait batu bara. Namun, kita semakin dekat dengan penerapan kebijakan ekspor komoditas-komoditas strategis hanya melalui BUMN (Badan Usaha Milik Negara) PT Danantara Sumberdaya Indonesia pada 1 Juni 2026. Pada tahap ini, minyak mentah sawit, batu bara, dan paduan besi menjadi kelompok komoditas pertama yang menjadi objek kebijakan.
Pada hari yang sama, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) baru untuk periode pertama Juni 2026.
Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko
Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.
Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.
Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.
Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.