USD/JPY Masih Dibatasi di Bawah 150,00, Investor Tunggu Data IHK Jepang

  • USD/JPY berosilasi dalam kisaran perdagangan yang ketat di atas pertengahan 119.00 di tengah sesi yang bergejolak.
  • Penjualan Ritel AS untuk bulan September dirilis lebih baik dari yang diharapkan.
  • Bank of Japan mempertimbangkan untuk merevisi prakiraan IHK inti untuk tahun 2023 dan 2024 dengan tetap mempertahankan prakiraan inflasi tahun 2025.

Pasangan USD/JPY tetap terbatas dalam kisaran sempit di sekitar 149,75 selama awal jam perdagangan sesi Asia di hari ini (Rabu, 18 Okt.). Lonjakan imbal hasil obligasi Treasury AS menopang pasangan mata uang utama ini. Di dekat level 150,00, para investor tetap berjaga-jaga terhadap kemungkinan intervensi oleh otoritas Jepang.

Namun, Greenback menarik beberapa pembeli karena data AS yang optimis pada hari Selasa, namun dampaknya hanya berlangsung singkat. Biro Sensus AS pada hari Selasa menunjukkan bahwa Penjualan Ritel AS untuk bulan September naik 0,7% MoM, mengalahkan konsensus pasar sebesar 0,3%. Penjualan Ritel naik 0,6% MoM versus 0,2% sebelumnya. Data tersebut menunjukkan momentum yang kuat dalam konsumsi.

Selain itu, Produksi Industri AS naik 0.3% MoM, lebih kuat dari ekspektasi. Terakhir, Pemanfaatan Kapasitas naik ke 79,7, lebih baik dari prakiraan. Sementara itu, imbal hasil obligasi AS yang lebih tinggi dapat membatasi sisi negatif USD dan bertindak sebagai pendorong bagi pasangan USD/JPY.

Pada hari Selasa, Presiden Federal Reserve Bank Minneapolis Neel Kashkari menyatakan bahwa inflasi telah memakan waktu lebih lama dari yang diprakirakan dan masih terlalu tinggi. Presiden The Fed Philadelphia Patrick Harker mempertahankan sikap dovish-nya dengan menyebutkan bahwa dengan tidak adanya perubahan dalam data, The Fed harus mempertahankan suku bunga. Para trader akan mengambil lebih banyak isyarat dari para pejabat The Fed pada hari Rabu, termasuk Waller, Williams, dan Bowman, yang mungkin menawarkan beberapa petunjuk terkait jalur kebijakan moneter lebih lanjut.

Menteri Keuangan Jepang Shunichi Suzuki menolak berkomentar mengenai intervensi mata uang oleh seorang pejabat Dana Moneter Internasional (IMF) pada hari Selasa. Suzuki melanjutkan dengan mengatakan bahwa tidak perlu menjelaskan secara rinci mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi mata uang. Para investor menunggu data inflasi Jepang pada hari Jumat untuk mendapatkan dorongan baru. Indeks Harga Konsumen Nasional (IHK) non-Makanan Segar untuk bulan September diprakirakan naik 2,7% YoY dari 3,1% pada pembacaan sebelumnya.

Lebih lanjut, diplomat keuangan utama Jepang Masato Kanda mengatakan pada hari Senin bahwa Yen Jepang (JPY) terus dianggap sebagai aset safe-haven, sebanding dengan franc Swiss dan dolar AS, dan diuntungkan oleh aliran safe-haven yang disebabkan oleh Kanda juga menegaskan bahwa jika terjadi pergerakan yang berlebihan di pasar mata uang, pemerintah  akan mengambil langkah-langkah seperti menaikkan suku bunga atau mengintervensi pasar.

Pada hari Selasa, sebuah media melaporkan bahwa Bank of Japan sedang mempertimbangkan untuk merevisi prakiraan IHK inti untuk tahun fiskal 2023 dan 2024 sambil mempertahankan prakiraan inflasi untuk tahun 2025.

Kemudian pada hari ini (Rabu, 18 Okt.), data Perumahan Baru dan Izin Mendirikan Bangunan AS akan dirilis. Perhatian akan beralih ke data inflasi Jepang pada hari Jumat. Para pedagang akan mengambil isyarat dari data tersebut dan mencari peluang perdagangan di sekitar pasangan USD/JPY. 

 

Breaking: PDB Tiongkok Berekspansi 4,9% YoY di Kuartal Ketiga versus 4,4% Ekspektasi

Data resmi yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional (NBS) menunjukkan pada hari Rabu bahwa ekonomi Tiongkok berekspansi pada tingkat tahunan sebesar
Read more Previous

Prakiraan IHK Inggris: Inflasi Diprakirakan akan Lanjutkan Tren Penurunan di Bulan September

Data Indeks Harga Konsumen (IHK) yang sangat penting dari Inggris untuk bulan September akan dirilis oleh Kantor Statistik Nasional (ONS) pada hari in
Read more Next