S&P 500 Futures Kesulitan Ikuti Kenaikan Indeks Wall Street saat Imbal Hasil Tidak Stabil, dan Inflasi PCE AS
- Sentimen pasar masih tidak menentu karena para pedagang menunggu arah yang lebih jelas menjelang katalis-katalis utama.
- S&P 500 Futures memudar dari level terendah bulanan, imbal hasil naik-turun setelah tren turun selama dua hari.
- Ekspektasi pergerakan masa depan seputar The Fed, BoJ bergabung dengan geopolitik yang beragam, berita utama perdagangan menantang para pedagang.
- Indeks Harga PCE Inti AS ditunggu kejelasannya, katalis-katalis risiko juga penting untuk diperhatikan.
Pasar keuangan berubah volatil pada Jumat pagi karena berita utama geopolitik yang beragam bergabung dengan antisipasi para trader terhadap langkah Federal Reserve (The Fed) dan Bank of Japan (BoJ).
Sentimen pasar membaik pada Kamis malam dan memungkinkan indeks Wall Street untuk ditutup pada sisi positif. Namun, Kontrak Berjangka S&P 500 baru-baru ini gagal untuk melanjutkan pemulihan dari level terendah bulanan dengan mundur ke 4.013, turun sebesar 0,13% dalam perdagangan harian.
Perlu dicatat bahwa imbal hasil obligasi pemerintah AS juga menahan pullback dua hari dari level tertinggi sejak November di tengah spekulasi hawkish The Fed dan pembicaraan bahwa tiga kali kenaikan suku bunga sebesar 0,25% sudah diperhitungkan. Meskipun begitu, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun berada di sekitar 3,875%, membuatnya kurang aktif pada hari ini, sedangkan imbal hasil obligasi AS bertenor dua tahun tetap tidak aktif di dekat 4,69% pada saat berita ini diturunkan.
Meskipun begitu, berita utama terbaru yang menyampaikan komentar-komentar dari calon gubernur bank sentral Jepang, Kazuo Ueda, tampaknya memberikan volatilitas yang cukup pada imbal hasil. Alasannya dapat dikaitkan dengan pernyataan Gubernur Bank of Japan (BoJ) yang baru yang pada awalnya membela kebijakan uang longgar sebelum menunjukkan kesiapan untuk melakukan pengetatan jika tekanan inflasi meningkat.
Di sisi lain, dorongan Tiongkok untuk gencatan senjata dalam perang Ukraina-Rusia, serta penandatanganan kesepakatan untuk memasok pesawat tempur, tampaknya memberikan sinyal geopolitik yang beragam. Di jalur yang sama, dorongan Senator AS untuk menghentikan maskapai-maskapai Tiongkok yang melintasi Rusia dalam penerbangan-penerbangan AS tampaknya memperbaharui ketakutan pasar.
Sebaliknya, Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengisyaratkan bahwa AS akan melanjutkan diskusi dengan Tiongkok mengenai isu-isu ekonomi 'pada waktu yang tepat' sedangkan Kementerian Perdagangan Tiongkok mendesak AS untuk menciptakan kondisi yang baik untuk perdagangan dengan Tiongkok. Berita ini berhasil memicu optimisme yang hati-hati selama jam-jam akhir hari sebelumnya.
Sejalan dengan itu adalah pernyataan dari juru bicara kementerian perdagangan Tiongkok yang mengatakan, momentum pemulihan di pasar konsumen negara tersebut kuat di bulan Januari dan juga menambahkan, "Pemerintah akan mengambil lebih banyak langkah untuk menghidupkan kembali dan memperluas konsumsi."
Perlu dicatat bahwa data AS yang kuat sebelumnya mendukung spekulasi hawkish The Fed dan mendorong Indeks Dolar AS (DXY) ke level tertinggi baru berusia tujuh minggu, turun sebesar 0,06% mendekati 105,54 pada level terakhir, yang pada gilirannya mendorong para penjual Emas. Namun, harga Minyak pulih dari level terendah tiga minggu.
Pembacaan kedua Produk Domestik Bruto AS yang disetahunkan pada hari Kamis, yang lebih dikenal sebagai PDB Riil, turun ke 2,7% untuk kuartal keempat (Q4) dibandingkan 2,9% perkiraan pertama. Namun, Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) dan PCE Inti untuk periode tersebut naik ke 3,7% dan 4,3% QoQ dibandingkan 3,2% dan 3,9% pada estimasi pertama. Selain itu, Indeks Nasional The Fed Chicago membaik ke 0,23 di bulan Januari dari -0.46 (direvisi), dibandingkan dengan estimasi analis sebesar 0,03. Pada baris yang sama, Klaim Tunjangan Pengangguran Awal juga menurun menjadi 192 Ribu untuk minggu yang berakhir pada 17 Februari dari 195 Ribu (direvisi) sebelumnya, dibandingkan dengan ekspektasi 200 Ribu.
Selanjutnya, data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditure/PCE) AS untuk bulan Januari akan sangat penting bagi pasar. Indeks Harga PCE diprakirakan naik 4,9% YoY di bulan Januari, dibandingkan 5% sebelumnya. Lebih lanjut, Indeks Harga PCE yang lebih relevan, yang dikenal sebagai pengukur inflasi favorit The Fed, kemungkinan akan turun ke 4,3% YoY, dibandingkan 4,4% sebelumnya.
Baca juga: Pratinjau Inflasi PCE AS: Dapatkah Dolar AS Berbalik Bullish untuk Selamanya?